Musibah Menjauhkannya dari Riba (Kisah Nyata)

Saya ingat waktu itu habis isa’ saya lagi cari mie ayam langganan saya. Tempatnya didekat masjid desa.

Karena penjualnya masih shalat saya menunggu disitu duduk dibangku kayu yang menghadap kejalan raya.

Datang seorang kakek-kakek dari arah masjid berjalan ke arah saya dengan menggunakan tongkat, yang saya taksir umurnya sekitar 60th.

Beliau sepertinya mau beli mie ayam juga, akhirnya beliau menunggu bersama saya duduk dibangku kayu itu.

Karena saya introvert yang tidak suka mengawali pembicaraan bahkan tidak tertarik berbincang dengan orang asing maka kami cukup lama berdiam-diam an.

Sekitar 5 menit dalam kondisi diam, beliau memulai pembicaraan dalam bahasa jawa yang artinya kira-kira seperti ini,

“Ini kakiku cacat gara2 dulu jatuh”

Saya kaget dong, beliau kok langsung gitu padahal gak ada pembicaraan awal apapun.

Akhirnya saya tanya,
“Kakek jatuh dari mana? Motor?”

Biliau langsung menyinsingkan sarungnya hingga kelutut dan memperlihatkan ke saya bekas jatihan panjang.

“Ini dulu jatuh dari pohon ketinggian belasan meter waktu memotong pohon dikebun”

Beliau cerita banyak tentang kejadian jatuhnya itu, dari pertama manjat hingga waktu jatuh tak sadarkan diri dan bahkan tidak ada yang tahu, karena kebunnya sepi.

Sampai beliau tanya saya orang mana, pdahal kita satu desa. Saya sering lihat beliau jalan disekitar masjid tp baru kali ini berbincang langsung.

Bahkan dari kecil pas beliau masih sehat saya sudah tahu, tapi beliau tidak mengenali saya.

Saya memang dari lulus SMA sudah dikota lain untuk menuntut ilmu sehingga saya jauh dari pergaulan desa.

Singkat cerita dari kejadian itu kaki beliau tidak bisa berjalan dengan normal lagi, harus dibantun tongkat.

Kemudian beliau lanjutin bicara,
“Padahal enak dulu mas, saya sudah kerja di Pegadaian”

“Dulu kakek kerja di Pegadaian mana?”

“Pegadaian di Jombang, tapi semenjak musibah ini sudah tidak bisa lagi kerja disana”

Dari sini saya langsung berfikir, mungkin ini bentuk Allah menyayangi hambaNya.

Karena jika beliau tidak kena musibah ini otomatis beliau masih kerja disana, dimana kita semua tahu Pegadaian itu riba.

Allah melaknat pemakan harta riba, pelaku riba, dan pencatat riba. Yang dosanya jika memakan harta riba secuil saja sama dengan zina sama orang tua kandung sebanyak 36x.

Bahkan dalam surat Al-Baqoroh Allah dengan tegas menantang perang kepada para pelaku riba.

Tidak terasa mie ayam saya sudah jadi begitupun dengan mie ayam kakek. Akhirnya saya akhiri pembicaraan dengan mendapat pelajar sangat berharga.

Kadang kita mengira sesuatu yang buruk menimpa kita adalah musibah padahal kita tidak tahu kedepannya itu justru bentuk kasih sayang Sang Pencipta.

Kakek itu memang kehilangan pekerjaan dan penghasilan karena kakinya cacat tapi hikmah dibalik itu sungguh luar biasa.

Semua memang tidak bisa dipandang dengan hitung2an manusia belaka, karena disitulah peran dari otoritas Tuhan.

Sejak umur kita 4 bln dalam kandungan, Allah sudah menjamin Rizki kita yang pasti bakal cukup hingga kita mati. Kita cukup usaha sesuai jalan yang ditentukanNya.

Tidak perlu takut kehilangan rezeki, dan jangan mengambil rezeki orang (mendzolimi) dengan riba.

Akhir kata seperti kutipan lembaga dakwah, tidak semua orang punya gaji tapi semua orang punya rezeki.

Dan bukti bahwa rejeki kakek itu masih terjamin meski sudah tidak bekerja di Pegadaian adalah beliau bisa membeli mie ayam 🙂


Komentar